Kamis, 14 Januari 2010

Pelestarian Sastra Daerah di Bangka Belitung Suatu Upaya Pemertahanan Budaya

1. Pendahuluan
Bangka Belitung awalnya merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Di era reformasi pada tahun 2000 melalui Undangundang nomor 27 terbentuklah Provinsi Bangka Belitung. Secara kultural Bangka Belitung merupakan rumpun Melayu, demikian juga bahasanya masuk dalam rumpun bahasa Melayu Bangka dan Melayu Belitung. Melalui media bahasa daerah tersebut muncullah beberapa karya yang ditulis oleh para penulis daerah. Kebanyakan dari para
penulis sastra tersebut menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan masyarakat Bangka Belitung tidak mengenal tingkatan sepertinya bahasa Jawa atau Sunda. Untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat formal menggunakan bahasa Indonesia sedangkan untuk
mengukapkan hal-hal yang bersifat nonformal menggunakan bahasa Melayu Bangka atau Melayu Belitung. Sastra sebagai produk budaya yang diungkapkan melaluibahasa tulis dan bahasa lisan banyak menyimpan berbagai produk kehidupan yang tersimpan dalam cetakan seperti buku dan media lainnya. Produk kehidupan yang terungkap tadi dapat berupa gambaran dan prilaku manusia dan pada akhirnya menjadi budaya yang dipertahankan secara terus menerus. Sehingga cukup banyak budaya Bangka Belitung yang diimplementasikan ke dalam bentuk karya sastra daerah.
2. Sastra Babel dari Masa ke Masa
Belum ada data tertulis yang berbentuk literatur dalam mengungkapkan kapan dimulainya sastra daerah di Bangka Belitung. Miskinnya leteratur ini menyebabkan sulitnya mengungkapkan
keberadaan sastra daerah. Selain itu, budaya masyarakat Melayu Bangka yang lebih suka menggunakan sastra lisan daripada sastra tulis. Untuk kasus jenis sastra drama tradisonal seperti dulmuluk yang cukup dikenal di masyarakat Bangka Belitung juga mengalami kesulitan mencari naskah yang telah dibukukan. Sastra Babel yang dimaksud pada makalah ini adalah karya sastra yang sebagian isinya membicarakan permasalah daerah Bangka Belitung. Jadi, lebih menekankan pada hasil karya dan tidak menekankan pada penulisnya. Artinya penulis bisa saja berasal dari daerah lain tetapi isi dari karya sastra tersebut membicarakan masalah daerah Bangka Belitung secara universal.
Apabila berbedoman kepada pembatasan tersebut di atas maka karya sastra daerah Babel yang telah dibukukan sebagai usaha pelestarian dapat berupa:
Cerita Bangka yang diterbitkan di Luar Negeri:
1. Cerita Bangka, Het verhaal van Bangka, karya E.P. Wieringa, Vakgroep Talen en Culturen van Zuidoost-Azie en Oceanie Rijksuniversiteit Leiden, 1990.
Pantun, Puisi, dan ”Gurindam”
1. Pantu Melayu Bangka Selatan, Editor L.K.Ara, Yayasan Nusantara, 2004.
2. Pangkalpinang Berpantun, Editor LK Ara dan Suhaimi Sulaiman, Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang, 2004.
3. Bangka Belitung Bercahaya dalam Pantun dan Puisi, Editor LK Ara dan Suhaimi Sulaiman, Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang, 2005
4. Kelekak, Editor LK Ara dan Suhaimi Sulaiman, Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang dan Yayasan Nusantara, 2005.
5. Langit Senja Negeri Timah, LK Ara, Yayasan Nusantara, 2004.
6. Ngintip Kita Punya Negeri, Kumpulan Gurindam Negeri Serumpun Sebalai, Roestam Rabain, (Proses Penerbitan).
7. Gurindam Abad 21, Berkelana di Padang Fana, H.Eko Maulana Ali, Bangka Pelanduk, 2005.
Cerita Rakyat:
1. Legenda Rakyat Bangka, Sang Benyawe sampai Tanjung Penyusuk, Asyraf Suryadin Amsyar dan Tien Rostini, Dewan Kesenian Bangka, 2000.
2. Cerita Rakyat Bangka, Putri Gunung Kelumpang ke Air Limau, Asyraf Suryadin Amsyar dan Tien Rostini, Dewan Kesenian Bangka, 2000.
3. Cerita Rakyat Bangka Belitung, Editor Asyraf Suryadin dan Tien Rostini, HISKI, 2008.
4. Megat Merai Kandis (Bangka), Sulaiman dan Koko P.Bhairawa, Grasindo, 2005.
5. Asal Mula Bukit Batu Bekuray (Cerita Rakyat dari Bangka Belitung), Koko P.Bhairawa, Azka Mulia Media, 2007.
6. Tahta dan Mahkota di Istana Kota Kapur (Bagian 1 dan 2), Sutarno ZA, Pemda Bangka, 2000.
Ungkapan Tradisional dan Kamus Daerah
1. Ungkapan Tradisional Kota Pangkalpinang, Editor Akhmad Elvian, Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang, 2006.
2. Kamus Bahasa Daerah Indonesia Bangka dan Belitung, Hartini dkk, Yayasan Annisa Nurrizki Pangkalpinang, 2003.
Selain karya sastra daerah seperti tersebut di atas terdapat juga karya-karya lain yang berbentuk roman, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan novel yang diterbitkan oleh organisasi profesi seperti HISKI (Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia) dan penerbit lainnya. Seperti Kehilangan Mestika karya Hamidah, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Antologi 99 Puisi 99 Penyair, Puisi Bingung Seorang Guru Editor Asyraf Suryadin, Kumpulan Cerpen Guru Teladan karya Tien Rostini dkk. serta beberapa lagi kumpulan cerpen dan novel yang telah berbentuk buku yang diterbitkan oleh HISKI.
3. Publikasi Sastra Daerah Babel
a. Media massa koran
Pada prinsipnya media massa berkewajiban mengembangkan seni dan budaya daerahnya masing-masing. Kewajiban ini terkait dengan fungsi pers sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Hal ini membuktikan media massa tidak semata-mata mengejar profit, tetapi juga memiliki idialisme dalam memajukan seni dan budaya khususnya di daerahnya Bangka Belitung. Walaupun ada kalanya ruang budaya yang satu halaman penuh tersebut adakalanya disisipi juga dengan iklan dengan cara mengilangkan bagian opini budaya.
Minimal ada tiga koran daerah di Bangka Belitung yang setiap minggunya menampilkan ruang budaya. Ketiga koran tersebut adalah Harian Pagi Bangka Pos, Bangka Belitung Pos, dan Rakyat Pos. Dari ketiga koran tersebut yang sangat menarik adalah Bangka Pos karena menampilkan puisi Amang Ika yang ditulis dalam bahasa Melayu Bangka. Puisi tersebut telah ditulis sejak Desember 2007. Awalnya dipublikasikan dalam bahasa Indonesia, kemudian dalam perkembangan berikutnya menggunakan bahasa Melayu Bangka dan setiap penampilannya dilengkapi dengan foto Amang Ika. Berikut ini contoh syair Amang Ika yang dimuat pada Bangka Pos tersebut:
HIKAYAT SI MAUN
ADA seorang bernama Maun
Hidup miskin bertahun-tahun
Siang dan malam duduk melamun
Berharap harta bagai Si korun
Tinggal di dusun bersama ibunya
Munah Saklamah ia punya nama
Maun disayang setulus hatinya
Bak mutiara tiada bandingnya
Walau badan tinggallah kulit
Hidup susah tak terasa sulit
Munah Saklamah menampal bukit
Berharap Maun menggapai langit

Kelekak Lukok, Desember 2007
Berikut ini contoh Amang Ika yang dibuat dalam bahasa Melayu Bangka seperti berikut ini.
TANJUK PELITA
Cem ne lah kisah dari dulu
Tiap ari mati lampu
Entah sengajak entah belagu
Amang Ikak imang dak tau
Tiap kampong lah dibuat gilir
Di sine idup di sane ngalir
Kampong begelep membuat getir
Teringat idup di zaman menir
Janji kek rakyat dak salah-salah
Bakal dibangun listrik yang mewah
Betaon-taon nunggu pon lelah
Sampai sekarang lom ade lah
Soal rekening dak usah ditanyak
Tiap bulan maken membengkak
Telambat bayar dirik disegak
Kwh dicabut mun lah lame nunggak
Keluhan rakyat mohon dipecah
Jangen dibuang dalam tong sampah
Idup melarat betambah susah
Tanjuk pelita minyak ge payah
Ikak pejabat imang dak mengalam
Tanjuk pelita di waktu malam
Kami rakyat benar-benar paham
Bangon tiduk lubang idong beritam
Tanjuk pelita membuat runyam
Serade gawi menjadi pitam
Karena pandangan sedikit kelam
Ngancoh kupi setarok kek garam
Amang Ikak ukan mendongeng
Lebih-lebih nek mukak koreng
Mun salah jangen dikerangkeng
Kalok benar mohon diconteng
Jadi pejabat nek tahan ati
Rakyat sekarang lah pandai ngoreksi
Basa-basi dak laku lagi
Kalok dikritik jangen emosi
Lebih-lebih nek ngadep pilkada
Pesan dititip janganlah lupa
Buat lah rakyat jadi sejahtera
Jangen agik tanjuk pelita (*)

Kelekak Lukok, April 2008
Apabila Anda perhatikan pada syair di atas terdapat tokoh Amang Ika. Kata Amang Ika dalam bahasa Melayu Bangka berarti Paman Anda. Pada puisi tersebut Amang Ika selalu bercerita tentang keadaan yang terjadi di Bangka Belitung baik yang berlatar sosial, keadaan alam Babel, politik, budaya, dan lain sebagainya. Contoh di atas merupakan syair yang berlatar sosial yang menggambarkan krisis listrik di Bangka Belitung.
b. Penerbitan lokal
Penerbitan lokal sangat berpengaruh dalam mengembangkan budaya daerah. Penerbitan tersebut di antaranya mengembangkan tradisi penerbitan buku-buku yang membicarakan tentang Bangka
Belitung, misalnya buku Translitersi dan Kandungan Fath al ’Alim fi Tartib al Ta’lim Syaikh Abdurrahman Sidik yang diterbitkan oleh Shiddiq Press, STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik. Buku tersebut merupakan pemikiran dari Syaikh Abdurrahman Sidik yang kemudian diterjemakan oleh civitas akademika STAIN. Selain itu, terdapat juga penerbit lain seperti UBB Press yang dikelolah oleh Universitas Bangka Belitung, HISKI Bangka Belitung, dan Bangka Media Grafika/Bangka Pos. Kebanyakan penerbitan local tersebut masih menerbitkan buku-buku yang ditulis oleh penulis local dengan berlatar budaya dan daerah Bangka Belitung.
c. Media elektronik
Media elektorik cukup efektif dalam usaha pemertahanan budaya. Media yang dapat membantu pemertahanan budaya tersebut diantaranya RRI Sungailiat. Media tersebut setiap minggunya menampilkan siaran Sastra dan Budaya yang dilakukan secara langsung dan bersifat interaktif. Berbagai budaya dan sastra Bangka Belitung dikupas secara tuntas dengan menampilkan tema yang cukup beragam. Semua itu dilakukan dalam usaha mengenalkan budaya dan sastra
Bangka Belitung hingga ke pelosok yang sulit terjangkau oleh media lain.
4. Sastra Daerah dalam Pemertahanan Budaya
Apa yang dapat ditarik dari karya sastra dalam hal pemertahanan budaya? Banyak sekali yang dapat diambil dari karya sastra, apalagi yang berkenaaan dengan hasil karya yang mengarah
pada budaya. Budaya Bangka Belitung yang sering dibicarakan dalam karya sastra adalah budaya menghomati orang lain dan budaya mempertahankan harga diri, budaya humor, dan budaya monumental.
Berikut ini penjelasan dari beberapa budaya yang sering ditemui dalam karya sastra daerah di Bangka Belitung.
a. Budaya menghormati orang lain dan budaya mempertahankan harga diri Karya sastra daerah yang dibuat oleh para sastrawan daerah pun banyak yang membeberkan budaya menghormati dan menghargai perbedaan agama. Tidak hanya itu, ada kalanya ditemui juga budayabudaya
untuk mempertahankan harga diri. Karya Roestam Robain dalam Ngintip Kita Punya Negeri yang berjudul Gong Xi Pacai (hal: 45) membicarakan masalah budaya ini. Imlek 2002/2553 Gong Xi Pacai Tahun kuda air kerja lebih giat jangan cai-cai Begitu pesan dari Jakarta suhu Acai
Konyan di Babel dimeriahkan dengan barongsai. Demi menjaga Babel tetap harmonis Jangan masukkan paham itu komunis Jangan pula nonjol harta budaya suku dan etnis UUD 45 dan Pancasila pedoman yang sudah finis
b. Budaya humor
Belum dapat dikatakan masyarakat Bangka Belitung kalau belum mengenal tokoh dalam cerita rakyat Pak Udak dan Mak Udak. Tokoh lucu yang suka belapun pelanduk ini kalau di Jawa Barat
disamakan dengan si Kebayan. Berikut ini contoh budaya humor dalam cerita rakyat yang dimakssud :
Nasib kurang beruntung bagi Pak Udak dan Mak Udak, karena belum mempunyai anak walaupun telah lama berumah tangga. Karena itu, Pak Udak bermaksud akan mencari perempuan lain untuk dijadikan istri kedua. Pak Udak pun mengemukakan maksudnya kepada Mak Udak. Sebagai istri yang bijak maksud Pak Udak disetujui oleh istrinya. Tetapi Mak Udak minta kepada Pak Udak akan mencari sendiri perempuan untuk istri muda Pak Udak. Maka mulailah Mak Udak membuat jalan di dalam hutan rimba.
Beberapa hari kemudia jalan pun selesai dibuat Mak Udak dan perempuan yang dicari pun telah ditemuinya. Pak Udak boleh dating untuk meminang perempuan itu pada malam hari. Segala nasihat istrinya dituruti oleh Pak Udak. Pak Udak pergi untuk menemui perempuan yang dikatakan Mak Udak. Sementara itu, Mak Udak mulai menghias diri memakai pakaian serba bagus dan wangi-wangian Pak Udak sangat gembira bertemu dengan calon istri mudanya.
Perempuan itu setuju dipinang Pak Udak, hanya saja perlu disepakati kalau ke istri muda pada malam hari dan tidak boleh siang hari. Pak Udak setuju akan permintaan perempuan itu yang penting pinangan Pak Udak diterima. Jika giliran Pak Udak di rumah istri tua, Mak Udak berbuat seperti biasa, tetapi jika giliran Pak Udak di rumah istri muda, Mak Udak pun mulai menghias diri dengan berpakaian serba bagus. Mak Udak pun selalu tertawa sendiri memikirkan akan kebodohan Pak Udak. Akhirnya, rahasia itu terbongkar juga ketika Pak Udak sedang berbaring-baring melepaskan lelah terlihat oleh Pak Udak jeratan pelanduknya. Sekarang sadarlah Pak Udak bahwa ia telah ditipu oleh istrinya, Mak Udak.
c. Budaya monumental
Banyak judul puisi atau judul prosa yang diambil dari namanama tempat atau daerah. Di Bangka Belitung. Antologi puisi Langit Senja Negeri Timah karya LK Ara memuat nama-nama tempat
tersebut, misalnya puisi dengan judul Parai yang mengingatkan kita terhadap keindahan pantai yang berada di kota Sungailiat Bangka. Selain itu, terdapat juga judul-judul yang lain seperti nama daerah Belinyu, Sungailiat, Toboali, Baturusa, Pantai Pasir Padi, dan Sungai Buding. Nama-nama tersebut mengingatkan kita akan daerah Bangka Belitung yang pada akhirnya dapat mendatangkan kerinduan terhadap daerah tersebut. Dalam cerita rakyat juga banyak ditemukan judul-judul yang menggunakan nama tempat. Misalnya cerita rakyat Asal Mula Bukit Batu Bekurai, Megat Merai Kandis, Sang Benyawe sampai Tanjung Penyusuk, dan Putri Gunung Kelumpang ke Air Limau.
5. Penutup
Berbagai budaya yang terimplementasi dalam sastra daerah seperti yang terungkap di atas dapat mempersatukan masyarakat di daerah Bangka Belitung dan akhirnya persatuan tersebut semakin
memperkokoh dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Selain itu, sebagai alat mempertahankan budaya lokal yang saat ini semakin terkikis akibat globalisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ara, LK. Langit Senja Negeri Timah (Antologi Puisi). Pangkalpinang: Yayasan Nusantara. 2004.
Harmi, Zulkifli dkk. Translitersi dan Kandungan Fath al Alim fi Tartib al Ta’lim Syaikh Abdurrahman Siddik. Sungailiat: Shiddiq Press. 2006.
Liaw, Yock Fang. Sejarah Kesusastraan Melayu Klassik. Singapura: Pustaka Nasional.
Robain, Roestam. Ngintip Kita Punya Negeri (Kumpulan Gurindam Negeri Serumpun Sebalai). Pangkalpinang: Tanpa Penerbit. 2004.
Wieringa, E.P. Carita Bangka Het verhaal van Bangka. Leiden: Vakgroep Talen en Culturen. 1990
Asyraf Suryadin
Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Bangka Belitung
Sumber :
http://pondokbahasa.wordpress.com/2008/12/07/pelestarian-sastra-daerah-di-bangka-belitung-suatu-upaya-pemertahanan-budaya/

0 komentar pada :“ Pelestarian Sastra Daerah di Bangka Belitung Suatu Upaya Pemertahanan Budaya ”

Poskan Komentar

Globalisasi

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antar manusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias.

Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.

Barang Antik

Barang antik (dari bahasa Latin: antiquus "tua") ialah benda menarik yang sudah berusia tua, seperti mebel, senjata, barang seni, maupun perabotan rumah tangga. Tidak terdapat definisi umum yang dapat diterima meluas seberapa antik sebuah barang, namun barang yang berusia lebih ratusan tahun lamanya dapat disebut antik. Di Amerika Serikat, UU Cukai Smoot-Hawley 1930 mendefinisikan barang antik sebagai "karya seni (kecuali permadani dan karpet yang terbuat setelah tahun 1700), koleksi dalam ilustrasi kemajuan seni, karya dari perunggu, pualam, terakota, parian, tembikar, atau porselin, benda antik artistik dan obyek karakter ornamen maupun nilai pendidikan yang harus diproduksi sebelum tahun 1830." Barang antik dijual dengan dilelang dan dari kolektor. Secara tradisional, kolektor dan orang kaya membeli barang antik, namun di negara industri, barang antik juga menarik di penyimpanan rakyat

Efek Rumah Kaca

Sampai saat ini isu yang menghantui bumi kita adalah akan terjadinya pemanasan global (global warming). Para ahli meramalkan terjadinya pemanasan global tersebut karena melihat tingginya polusi udara yang dialami bumi dan menyebabkan efek rumah kaca yang berlebihan yang dapat membahayakan bumi. Apakah pemanasan global itu? Mengapa bisa demikian? Dan apakah efek rumah kaca itu?

Akar Bahar

Barang langka ini menjadi daya tarik sebagian komunitas masyarakat Indonesia karena dipercaya dapat menghilangkan rasa nyeri sendi pada tulang, rematik dan dipercaya juga sebagai penangkal ilmu hitam, maka tak heran jawara jawara dari indonesia sering melingkarkan akar bahar ini di tangannya. Untuk cincin akar bahar saja dihargai 50.000 rupiah sedangkan jika ada akar bahar yang mempunyai diameter lebih dari satu cm maka harga pun berubah menjadi juta-an. Begitu mahalnya untuk sebuah aksesoris namun akar bahar tetap banyak peminatnya. Jika anda ingin mendapatkannya pergilah ke daerah aku di kepulauan Bangka Belitung, kalau di Bali biasa disebut kayu uli, di Sulawesi Tenggara Kab. Konawe Utara, di Halmahera Timur, di Irian Jaya atau yang sempat singgah di negeri seberang anda dapat menemukannya di Hawaii, atau di perairan Cuba.....Lihat gambar sebelah---->

Gambar Akar Bahar

Gambar Akar Bahar

Free Blog Content Sumber: KlikBCA.com KilasBerita.com

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno1 (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – wafat di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 - 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya - berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat - menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Untuk lebih jelasnya kamu bisa baca dan klik di sini.

Daftar suku bangsa di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Banyak sekali suku-suku yang hidup di Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke.Biar lebih jelas lagi kamu bisa baca dan klik Di sini.

Suku Indian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Suku Indian adalah pemukim pertama Amerika Utara datang dari Asia lebih dari 20.000 tahun lalu. Karena mengikuti hewan buruan, mereka mengembara melewati Selat Bering (dulu tanah genting, kini pemisah Asia dan Amerika Utara). Lambat laun mereka menetap dan berkembang menjadi berbagai suku. Berabad-abad mereka membangun masyarakat teratur. Pada abad ke-16, orang Eropa tiba di Amerika Utara untuk pertama kali. Karena mengira tiba di India (Asia), mereka secara keliru menyebut penduduk asli itu orang "Indian". Orang Eropa menginginkan tanah. Karena itu keberadaan penduduk asli terancam. Kaum Indian lalu bertempur melawan para pemukim baru. Pada abad ke-19, suku Indian melawan pemerintah Amerika Serikat yang berusaha menggusur mereka. Lewat perjuangan sengit, kaum Indian dipindahkan ke reservat, daerah khusus buat mereka. Hingga kini banyak orang Indian masih hidup di sana.
Nih lebih jelasnya kamu klik Disini

Che Guevara

Che Guevara
Che Guevara, Nama lain: Che, Tanggal lahir : 14 Juni 1928, Tempat lahir : Rosario, Argentina, Tanggal kematian : 9 Oktober 1967 ( umur 39 ), Tempat kematian : La Higuera, Bolivia, Organisasi utama : Gerakan 26 Juli

Che Guevara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ernesto Guevara Lynch de La Serna (lahir di Rosario, Argentina, 14 Juni 1928 – wafat di Bolivia, 9 Oktober 1967 pada umur 39 tahun) adalah pejuang revolusi Marxis Argentina dan seorang pemimpin gerilya Kuba. Guevara dilahirkan di Rosario, Argentina, dari keluarga berdarah campuran Irlandia, Basque dan Spanyol. Tanggal lahir yang ditulis pada akta kelahirannya yakni 14 Juni 1928, namun yang sebenarnya adalah 14 Mei 1928. Untuk lebih jelasnya kamu baca Di sini.


Get your own LinkBox!
Tukar Link

Pengikut


ShoutMix chat widget
 
KOMUNITAS